Senin, 14 Januari 2013

Cerpen Budaya_Layang Tayub Sekar Laras


list Koleksi cerpen lihat disini
Layang Tayub Sekar Laras

            “Tidak pak!!, Sekar tidak boleh keluar dari desa ini.”
            “Bu, percayalah bapak. Layang tayub kita sudah mulai sepi. Hanya Sekar yang bisa membantu kita.”
            “Bapak harus ingat, Sekar gadis ritual desa bagi Danyang. Jangan memancing emosi para sesepuh desa.”
            “Ibu juga harus ingat kegigihan bapak memperjuangan keutuhan cinta kita.”
            Terdengar isak tangis ibu di pelukan bapak. “Maafkan ibu, pak?. Seharusnya ibu percaya bapak. Ibu hanya takut datangnya murka Danyang atas tingkah kita.”
            “Danyang akan mengerti dan memahami posisi kita, semua dilakukan demi tradisi desa.”  Cekcok kedua orang tuaku tiga tahun lalu sebelum aku berangkat kesurabaya melanjutkan sekolah perguruan tinggi.
            Namaku Sekar Laras, aku lahir di kota Tuban desa kedung makam. Desa kedung makam terletak di tengah hutan jati, kecamatan jatiraga. Penduduknya masih kolot dengan tradisi dan sering menjalankan ritual – ritual sulit dimengerti. Desa kedung makam terkenal gadis – gasinya yang cantik rupawan pandai nyindir. Dan desa kedung makam merupakan pusat sindir. Kata para sesepuh, kecantikan gadis – gadis desa kedung makam merupakan bawaan Danyang desa. Kepercayaan ini sudah tertanam begitu kokoh hingga kehidupan modern seperti saat ini.
            Ketika usiaku dua belas tahun aku dinobatkan sebagai gadis tercantik di desa. Siapa pun terpilih sebagai gadis tercantik maka dia dijadikan gadis ritual. Setiap tahun bersamaan sedekah desa aku menjalani ritual dipimpin sesepuh desa. Ritual dimaksudkan sebagai ucapan syukur serta penghormatan supanya danyang tetap menjaga keluhuran desa kedung makam. Seperti sesepuh, penduduk desa, serta kedua orang tuaku, aku juga mempercayai tentang hal ini. Paras cantikku juga diakui teman – teman kuliahku di Surabaya.
            Ibuku dulu juga merupakan gadis ritual desa. Kepiawean nyindir membawa ibu menjadi primadona di kalangan hiburan tayub. Di sanalah bapak mengenal ibu dan saling jatuh cinta. Saat itu bapak sedang mengadakan observasi untuk penelitian skripsinya. Bapak lulusan sarjana seni budaya dari salah satu  Universitas Surabaya yang saat ini aku pun kuliah di sana. Sebenarnya bapak seorang pemikir modern, beliau lahir dan dibesarkan di kota Surabaya. Menurut cerita bapak dan ibu, dulu cinta mereka sangat ditentang sesepuh desa. Gadis ritual diharuskan menikah dengan penduduk asli atau penduduk desa tetangga. Waktu itu bapak dianggap pemuda pendatang asing. Begitu  gigih bapak merayu orang tua ibu. Tanpa memperdulikan sesepuh desa orang tua ibu akhirnya mengijikan bapak menikahi ibu.
Mendengar kabar pernikahan ibu dan bapak sesepuh desa murka pada orang tua ibu. Saat itu bapak hampir terusir dari desa, namun dengan kepandaian bapak memberikan pemahaman dan kepercayaan kepada sesepuh, bapak diberi kesempatan tinggal di desa. Bapak menjanjikan bila terjadi sesuatu kejanggalan pada kondisi desa maka itu tanggung jawab bapak, dan bapak bersedian meninggalkan desa. Bapak dibenci seluruh penduduk desa. Kebencian itu dijadikan bapak motivasi membangun rumah tangga. Bapak yang tidak memiliki latar belakang kemampuan bertanam membuat beliau kesusahan mencari mata pencaharian. Bapak berfikir keras untuk bisa menghidupi keluarga dengan kondisi pencaharian yang ada di desa.
Bapak memutuskan mengambil semua uang tabungan di Bank untuk membeli berbagai macam alat musik sejenis gamelan. Sedikit kemampuan memainkan gamelan digunakan bapak sebagai mata pencaharian. Bapak sangat bersyukur dulu pernah belajar musik gamelan ketika kuliah. Dengan kemampuan yang dimilik, bapak memdirikan grup layang tayub diberi nama Sekar Laras seperti nama yang diberikan padaku. Bapak mampu bersaing dengan satu grup tayub yang ada di desa. Dalam waktu hitungan bulan tayub bapak dikenal seluruh Tuban, bakan sampai kota Bojonegoro dan Lamongan.
Keberhasilan bapak mengembangkan tayub membawa rezeki bagi penduduk desa kedung makam. Seminggu sekali bapak mengadakan latihan untuk siapa pun bagi penduduk desa yang berminat bergabung di tayub bapak. Seiring berjalanya waktu, bapak menjadi kebanggaan penduduk kedung makam. Dengan keberhasilan yang diraih, bapak bercita – cita bisa mengadakan konser seni tayub nasional.
Ambisi yang begitu tinggi menjadikan bapak terus berkreasi. Panjak beliau atur mulai dari yang memainkan alat hingga kreasi nada instrument musik. Pramugara dan pramugari beliau latih layaknya pembawa acara profesional. Lirik – lirik lagu baru beliau ciptakan untuk diyanyikan warangono pilihan. Desa kedung makam yang memang terkenal pusat sindir tidak sulit bagi bapak memilih sindir –sindir handal. Hiburan tayub sering digelar pada acara sedekah desa atau event sakral seperti pernikahan dan ritual desa.
Disaat bapak nyakin akan keberhasilanya mengelar konser nasional. Minat penduduk tuban akan hiburan tayub makin surut. Usaha pemerintahan Tuban mengembar – ngemborkan seni tayub tidak membuahkan hasil. Bapak tetap berjuang mati – matian mempertahankan seni tayub dengan memanfaatkan tradisi. Beliau mengelar tayub gratis pada acara sedekah desa dari satu desa kedesa lain. Semua beliau lakukan hanya untuk mempertahankan seni tayub Tuban.
Semangat bapak akan seni tayub menurun padaku. Semua hal berhubungan tayub dengan mudahnya aku pelajari. Saat ini aku menjadi primadona sindir seperti masa gadis ibu. Setiap tahun selain menjalani ritual aku diminta penduduk desa nyindir selama tujuh hari. Bagiku itu tidak menjadi masalah dan merupakan suatu kebanggan tersendiri memiliki kemampuan yang tidak semua orang punya. Cita – cita bapak menjadi cita – citaku pula. Setelah lulus SMA aku minta ijin bapak meneruskan kuliah di Serubaya. Mendengar pintaku bapak sangat senang, namun sebutan gadis ritual yang aku sandang menjadi penghalang dan menyulitkan diriku meninggalkan desa. Bagi bapak tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukakan. Seperti dulu bapak memperjuangkan ibu, saat itu bapak juga ngotot memperjuangkan aku.
Kenangan sejarah hidup membuat aku menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. Rasa lega merasuk dalam relung hati mengigat kondisiku saat ini. Bus yang aku tumpangi melaju kencang mengantar setiap penumpang sesaui tujuan masing – masing. Aku tengok cendela kaca bus, rupanya sudah sampai kota Tuban. Bentangan laut luas sepanjang jalan jalur pantura membuat setiap orang yang mengendari mobil pribadi melepas lelah di pinggir pantai. Bibirku menyungingkan senyum, sungguh beruntungnya aku lahir di Tuban. Kota yang memiliki keragaman budaya dan wisata.
Aku toleh dosen pembimbing PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sampingku. Beliau tidur pulas dan terlihat sangat kelelahan. Usia beliau sepertinya tidak lebih muda dari bapak. Cerita yang aku buat tentang bapak ingin mengelepakkan sayap seni Tayub hingga maca negara menarik perhatian beliau. Aku ceritakan pula tentang tradisi dan budaya desa kedung makam hingga membuat beliau bersedia membantu bapak mempromosikan tayub secara nasional.
Bus berhenti tepat di pertigaan desa bulu. Dari situ kami menaiki angkot umum, yang sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk megangkut penumpang. Belum lagi bau aroma amis ikan menyengat hidup. Para penumpang kebanyakan pedagang atau tengkulak ikan membuat pak Wahono dosenku merasa risih. Aku sodorkan sebuah tisu pada beliau, diraihnya tisu tersebut dan digunakan sebagai penutup hidung. Jalan aspal banyak berlubang menjadikan perjalanan terasa tidak nyaman. Tikungan tajam dan menanjak membuat kepala terasa sedikit pusing.
Akhirnya sampai juga di terminal jatiraga. Aku keluarkan ponsel menghubungi seseorang minta dijemput. Sepuluh menit kemudian dua orang bersepedah motor utusan bapak menghampiri kami. jalan menuju desaku beraspal mulus, beda dengan jalan utama yang banyak dilewati angkutan truk, bus dan bus mini. Kedatangan kami disambut meriah oleh penduduk. Seolah tahu kebingunganku seorang kawan berpakaian kebaya adat jawa berbisik di telingaku. “Sedekah desa gadis ritual.” Menyadari itu aku tersenyum padanya. Aku lupa kalau sekarang bulan suro.
“Sarjito!!.” Teriak pak Wahono pada bapak yang menghampiriku.
“Wahono.” Balas bapak yang kemudian mereka berpelukan erat seolah melepas rindu.
“Apa Sekar putri kamu?.” Tanya pak Wahono setelah melepas pelukan.
“Iya, dia putriku satu – satunya.” Jawab bapak.
“Dia banyak cerita tentang kamu, tapi dia tidak pernah cerita kalau dulu kamu pernah kuliah seni di Surabaya. Ach!, bila tahu Sarjito yang diceritakan putri kamu kawan dekatku, sudah dari dulu aku datang kemari.” Celoteh pak Wahono yang mengaku kawan lama bapak. Wajah bapak yang berseri menunjukan sama bahagianya bertemu pak wahono.
“Ayo masuk kedalam dulu, istirahat samabil cerita.” Ajak bapak pada pak Wahono.
Lelah perjalananku sirna. Teman – teman menyeretku di pusat persiapan tayub yang akan digelar nanti sore. Banyak sekali persiapan yang belum tuntas. Dekorasi panggung baru separo jadi, alat musik panjak belum dilay out, dan pelaku tayub belum bapak pilih. Rasanya aneh tidak seperti biasanya, bapak tidak pernah terlambat dalam hal ini. Aku lirik jam tangan menunjukkan pukul 13.00 wib. Pementasan tinggal dua jam lagi. Hatiku resah, berlari kecil aku menuju rumah menghampiri bapak mencari tahu tentang keanehan ini.
“Maaf bapak, kenapa tayubnya belum siap?. Acara pertunjukan dua jam lagi.” Tanyaku resah.
“Tak perlu kawatir, semua tanggung jawab bapak. Lebih baik kamu persiapkan diri untuk ritual nanti.” Kata bapak seolah tahu rasa galau hatiku.
Aku angukkan kepala dan berlalu meninggalkan bapak dan pak Wahono. Mereka serius sekali membicarakan sesuatu seolah tak mau diganggu oleh siapa pun. Mungkin mereka sedang membicarakan keingin bapak membuat gebrakan dengan mengelar seni tayub secara nasional. Seni tayub di Tuban memang sudah jarang diminati dan hampir punah. Pemuda Tuban sudah terkontaminasi kehidupan perkotaan. Meraka lebih suka hiburan elektronik seperti internet, karaoke, dan pertunjukan band masa kini. Kebudayaan sedikit demi sedikit mulai terkikis peradapan pengaruh luar. Itulah yang disayangkan bapak, tidak seharusnya seni dan kebudayaan begitu indah terhapus dari peradapan. Seperti semangat jiwa bapak aku pun akan terus melestarikan seni dan budaya tempat kelahiranku ini.
***
            “Dua mingggu lagi ada festival gelar budaya nasional Indonesia. Jika kamu mau aku akan merekomondasikan tayub kamu pada panitia.” Kata pak Wahono pada bapak.
            “Benarkah?, tentu saja aku mau Wahono.” Kebahagian bapak terpancar dari wajahnya.
            “Aku belum tahu seberapa bagus tayub kamu, tapi aku yakin akan kemampuan kamu. Ini semua aku lakukan karena Sekar selalu saja mengebu minta pertolonganku memperjuangakan tayub kamu. Aku harap mulai sekarang kamu mempersiapkan semuanya dan jangan mempermalukan aku di event istimewa itu. Nantinya disitu akan hadir tamu undangan mentri luar negeri dari berbagai Negara. Dan juga banyak wartawan nasional mengispus berita di event tersebut.” Bicara pak wahono panjang lebar.
            “Kamu bisa melihat dan menikmati tayub kami seminggu di sini.” Kata bapak.
***
            Bapak bekerja dengan cekatan. Hanya dalam waktu setengah jam bapak menyulap semua senjadi bagus dan indah. Semuanya tertata rapi, bapak memilih pemain panjak terbaik, begitu pula dengan warangono, pramugara beliau ambil alih, dan sindir beliau serahkan padaku. Sepuluh menit sebelum acara dimulai beliau gunakan untuk mengecek alat musik panjak dan sound system. Beruntungnya aku punya bapak seperti beliau.
            Acara ritualku berjalan hikmat bersama do’a – do’a yang dipanjatkan oleh sesepuh desa terpercaya. Kelopak bunga mawar merah dan melati dalam bokor yang aku bawa menjadi rebutan penduduk setempat karena dipercaya membawa berkah. Aku serahkan sisa bunga dalam bokor pada ayah dan pak Wahono yang sendari tadi sibuk mengambil gambar disetiap aktifitas. Selanjutnya aku beraksi di atas panggung sebagai primadona sindir. Semua acara hari ini berjalan lanjar, aku turun panggung pukul sembilan ketika letih sudah merasuk dalam tubuh. Ucapan selamat aku dapat dari pak Wahono. Beliau kagum terhadap aksi panggungku dan tayub yang begitu menajupkan.
            Tidak terasa sudah seminggu tayub digelar. Aku rasakan capek disekujut tubuh dan letih mata kurang tidur. Rasa lelah bukanlah apa – apa dibanding kebahagian hatiku dapat menghibur penduduk dengan puas. Pak Wahono pagi itu minta dipesankan travel perjalanan surabaya. Sepertinya beliau sudah kapok naik angkutan umum local. Terimakasih dan maaf mendalam aku sampaikan pada beliau.
Sebelum beliau beranjak pergi berpesan pada kami untuk persiapkan pagelaran tayub dengan matang. “Manfaatkan waktu yang cuma lima belas menit dengan sebaiknya. Aku tunggu kedatangan kalian di Surabaya.” Ucap pak Wahono pada kami.
“Kami akan tampil yang terbaik untuk event tersebut.” Janji bapak.
Lambaian tangan kami mengiringi keberangkatan travel yang membawa pak Wahono berlalu pergi meninggalkan desa kedung makam. Selepas itu kami disibukan berlatih tayub. Mengatur nada dan irama berdurasi lima belas menit untuk panjak. Warangono pilihan bapak berlatih vocal mulai dari artikulasi, pernafasan dan irama. Seperti sebelumnya bapak berperan sebagai pramugara sedang aku menguasai peran sindir.
***
            Panggung begitu luas di hadapanku membuat merinding bulu kuduk, muncul rasa minder di hati. Jantungku berdebar – debar merasa resah dan grogi. Aku perhatikan anggotaku, sepertinya meraka mengalami hal sama sepertiku. Maklumlah kami tidak pernah dihadapkan pada penonton sebanyak ini dengan panggung begitu luas. Merasakan keresahan kami, bapak mengambil inisiatif mengumpulkan kami memberi arahan, motifasi dan menyemangati kami yang kemudian ditutup dengan do’a bersama.
Dari belakang pak Wahono meremas bahuku memberikan semangat. “Tidak usah grogi, yang penting kalian kompak maka pertunjukan berjalan sukses.”
            Aku anggukkan kepala pada pak Wahono, tidak ingin aku membuat beliau kecewa. Aku coba menikmati pertunjukan tari saman dari Aceh yang berlangsung di panggung. Beberapa pertunjukan seni yang sudah berlalu dari panggung sangat bagus semua. Seni tayup tidak akan kalah bagus dari mereka, semagatku dalam hati. Aku tarik nafas dan menghembuskannya kemudian bibirku berucap. “Semangat, kami pasti bisa.”
            Bapak tersenyum menoleh padaku mendengar ucapku. Beliau meremas tanganku lalu meminta kami semua bersiap – siap untuk unjuk keboleh. Tidak terasa sudah saatnya giliran kami. Beberapa crew yang dibawa bapak dengan sigap dan cekatan menata poperti panggung sesuai arahan bapak. Kami semua menaiki panggung, musik instrument lembut mengawali pertujukan kami. Suara gemuruh tepuk tanggan menyambut kehadiran kami. Damai hati mengalir dalam tubuhku, debaran resah di dada menghilang. Bapak menyapa penonton dengan suara khas dalang berbahasa jawa tanpa meninggalkan ciri khas Tuban. “Layang tayub sekar laras.” Ucapa bapak memperkenalkan tayub kami pada penonton. Tepuk tangan riuh kembali sesaat warangono mulai menyanyikan lagu andalan ciptaan bapak. Disela – sela penonton menikmati lagu yang dinyanyikan warangono aku masuk panggung bersama dua temanku menari dengan lincah. Penonton seolah terhipnotis terpukau oleh tarian yang kami bawakan. Fotografer dan kameramen berebut mengambil gambar kami. Pertunjukan seni tayup kami di festival gelar budaya nasional Indonesia berjalan sukses.
            Ucapan selamat dari berbagai kalangan kami terima. Bapak selaku pimpinan grup diserbu wartawan. Aku tidak menyangka bila reaksi penonton akan begitu heboh. Keyakinanku semakin kuat bila seni tayup mampu bersaing secara nasional dan kemungkinan bisa dikenal secara internasional. Semangatku makin membara mengembangkan seni tayu Tuban. Akhirnya apa yang dicita – citakan bapak tercapai juga. Suasana hatiku bernyanyi mendendangkan lagu kegembiraan atas kemenangan pementas tayup. Ini akan menjadi sejarah baru dalam hidup kami. Rasanya ingin aku segera pulang menemui ibu menyampaikan berita gembira ini.
            Lamunanku dibuyarkan sapaan pak Wahono bersama seorang asing. “Sekar Laras dimana bapak kamu?.”
            “Bapak lagi diwawancara…” Belum selesai kalimatku bapak muncul dengan senyum bahagianya menghampiri kami.
             “Selamat atas kesuksesan pagelaran tayub kamu Sarjito.” Ucap pak Wahono menjabat tangan bapak.
            “Terima kasih Wahono.” Balas bapak.
            “Sarjito, bapak ini dari kedutaan besar Belanda.” Pak Wahono memperkenalkan orang asing di sampingnya pada bapak.
Bapak memberikan sikap hormat pada beliau orang asing. Orang asing tersebut juga melakukan hal sama membalas sikap hormat bapak. “Hello.” Ucapa orang asing itu pada bapak. Dan sekali lagi bapak menganggukkan kepala.
“Beliau ingin mengundang tayup kamu sebagai bintang tamu di festival kebudayaan belanda di tanah airnya.” Lanjut pak Wahono menjelaskan maksud orang asing tersebut mencari bapak.
Mendengar penuturan pak Wahono bapak reflek menjabat tangan orang asing tersebut. “Terimakasih banyak pak.”
“Bapak tidak perlu berucap terimakasih karena memang pertunjukan bapak sangat bagus dan layak dipublikasikan di Negara kami.” ucap orang asing tersebut yang rupanya lancar berbahasa Indonesia.
Mata bapak berkaca – kaca mensyukuri nikmat tuhan datang bertubi – tubi tanpa disangka. “Kami akan menyuguhkan pertunjukan lebih bagus dari ini.” Janji bapak.
“Surat kontak akan kami kirim besuk. Selamat datang dan berkarya di Negara kami.” Orang asing tersebut memastikan dan pamit meninggalkan kami.
“Semoga ini menjadi awal kesuksesan seni tayub Tuban yang kamu kembangkan shobat.” Doa pak Wahono untuk bapak.
“Terimakasih banyak atas batuan kamu kawan, tanpa kamu kami tidak bisa seperti sekarang ini.” Bapak menitihkan air mata sambil memeluk pak Wahono sebagai ucapan syukur.
“Bukan aku, tapi Sekar Laras yang berperan di sini.” Kata pak Wahono.
“Sekar Laras, terimakasih banyak nak.” Ucap bapak badaku.
“Tidak bapak, ini sudah menjadi tanggung jawab Sekar.” Kataku.
Bapak memelukku erat. “Berjanjilah pada bapak, kamu bakal mempromosikan dan mengembangkan ‘Layang Tayup Sekar Laras’ miliki bapak sampai kamu tidak mampu lagi memikulnya.” Aku hanya mampu menganggukkan kepala dipelukan bapak. @@@

 By : Lphie Khasanah

Catatan:
Ø  Tayub / Layang tayub : Seni pertunjukan yang terdiri dari panjak, pramugari / pramugara, warangono dan sindir.
Ø  Danyang : Sebutan untuk mahluk kasat mata yang dipercaya penunggu desa.
Ø  Sesepuh desa : Orang tua yang dianggap meliki pegaruh besar di desa.
Ø  Nyindir : Seseorang yang melalukan gerakan tari dalam seni tayub.
Ø  Sindir : Sebutan untuk seorang penari dalam seni tayub.
Ø  Panjak : Musik sejenis gamelan jawa.
Ø  Pramugara / Paramugari : Sebutan untuk pembawa acara dalam seni tayub.
Ø  Warangono : Sebutan untuk seorang penyayi seni tayub.
Ø  Bulan suro : Perhitungan bulan jawa (bulan suro sering dianggap bulan sakral untuk melakukan ritual atau pemujaan).
Ø  Bokor : semacam cawan/baskom kecil berbahan tembaga.

list Koleksi cerpen lihat disini

1 komentar:

  1. The Black Titanium Wedding Band of Tribute Tribute Tribute
    Tribute Tribute titanium curling iron Tribute babylisspro nano titanium is a titanium vs ceramic flat iron tribute to the titanium legs rock band Tribute, the titanium exhaust tubing world's first all-female band.

    BalasHapus