Minggu, 03 Februari 2013

Cerpen LoveHolic_Aku, Kamu dan Kita

Lis Koleksi cerpen Lihat disini

AKU, KAMU DAN KITA

            “Selamat ulang tahun Desta.” Desti memberiku selamat.
            “Terima kasih.” Kuterima uluran tangan tanpa ucapan selamat balik, tapi Desti tetap semangat. Dengan gaya enerjik mengajakku keluar kamar menemui tamu undangan.
            “Attention please...!, teman-teman perkenalkan ini kakaku Desta, kami lahir dihari dan waktu yang sama.”
            Sudah aku duga mereka pasti kaget. Banyak pasang mata memandangiku, dan mungkin dalam hati muncul kalimat, “Ooo…. Ternyata Desti punya saudara kembar cacat fisik.” Beberapa detik kemudian terdengar bisik-bisik samar namun membuat telingaku panas dan menyakitkan hati. Aku putuskan meninggalkan ruang pesta menuju taman dengan tongkat yang setia menompang badanku. Suasan taman membuat hati  terasa sejuk. Ikan berenang kejar-kejaran dalam kolam membuat iri bisa hidup lepas tanpa tekanan.
            Lama tidak berjalan mengunakan tongkat membuat badan terasa capek. Aku balik badan menuju kursi taman bersama bayangan indah menjadi saudara ikan – ikan kecil. Aku rebahkan badan dikursi dengan kaki selonjor. Merentangkan kedua tanggan pada sandaran kursi. Nafas panjang kubuang lewat mulut melepas lelah. Dan, kepala aku tenggadahkan keatas dengan mata terpejam. Sungguh nikmatnya bila pikiran kosong, darah mengalir lancar dan otot tidak tegang. Sedikit kaget ketika membuka mata, tanpa aku sadari duduk seorang cewek disampingku.
            “Hai, kamu Desta saudara kembar Desti kan?.” Senyum manis dibibir sabil mengulurkan tanggan kearahku.
            “Ya.” Jawabku tanpa menjabat uluran tangan.
            Akhirnya dia menurunkan tanggan. “Baiklah, selamat ulangtahun dan namaku Irra.”
            “Terimakasih.” Terpaksa aku menoleh kearahnya. Cantik, ramah, tidak pantang menyerah, sempurna tidak ada kekurangan sedikitpun menurut penilaian dari pandangan mataku. “Kenapa tidak ikut senang-senang didalam?.” Tanyaku kemudian.
            “Bosan.” Jawabnya singkat. “Kamu sendiri dari tadi Cuma berdiri dan duduk-duduk disini!, padahal inikan pesta kamu.”
            Senyum sinis mendengar penuturannya. “Kenapa?, kasihan lihat aku!, terus kamu datang menghampiri. Terimakasih, aku tidak butuh dikasihani olehmu.”
            “Hai-hai ko’ marah sich!, jangan tersinggung. Aku kesini memang lagi sumpek saja berada di dalam. Nggak ada maksud lain, bener dech!. Suer.”
            Beberapa saat lamanya aku dan dia saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang Irra pikirkan. Mungkin tentang sikapku yang cuwek, tak acuh dan judes. Yang jelas saat ini pikiranku sedang melayang. Andai aku punya satu pasang kaki sempurna, mungkin banyak gadis cantik terpikat padaku. Sering aku memandangi wajah dicermin, putih, halus, mulus tidak satupun jerawat tampak diwajaku (wiiiihh…, seperti iklan pembersih wajah di TV aja nich!! J ). Dibandingkan Desti yang kurus kering (bukan tengkorak hidup pastinya J), aku memang lebih cakep dari Desti. Boleh dibilang artis bintang korea Rain masih kalah tampan dariku (waduh!!, semakin lebay kaya’ sinetron J).
            “Desta!.” Panggil Irra. “Haayy, Destaaaa.” Pangil Irra lagi sambil melambaikan tangan didepan mukaku membuyarkan lamunan.
            “Oh ya, maaf.” Aku tersentak kaget.
            “Maaf, tadi aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu.”
            Disela percakapan kami. “Irra, kamu disitu?.” Suara Desti terdengar dari belakang.
            Aku dan Irra serempak menoleh kebelakang. “Yaa….” Teriak Irra.
            “Kalian sudah saling kenal?.” Sapa Desti sambil terus berjalan menghampiri kami.
            Aku dan Irra menoleh berpandangan seolah membutuhkan persetujuan dari kedua belah pihak untuk menjawab pertanyaan Desti. Tanpa menunggu jawaban dari kami Desti memperkenalkan Irra padaku.
“Desta, ini Irra pacarku.” Sambil menepuk kedua bahu Irra dari belakang.
“Good job, You are perfect.” Pujiku pada Desti dengan senyum setengah hati.
“Kalian berdua tidak merasa dingin, masuk kedalam yuck!.” Ajak Desti.
Desti mengandeng Irra masuk kedalam, dan aku mengikuti ngekor dibelakang dengan kaki sedikit pincang. Rasa pengap dan sesak mulai muncul dikeramaian ruangan. Aku benci gurauan dan ocehan nggak penting mereka. Langkah kakiku terus berjalan melewati mereka menuju kamar. Pintu kamar aku tutup rapat-rapat dan aku pasang headset ditelinga lalu aku putar volume cukup keras melawan suara-suara diluar kamar. Aku rebahkan badan dan memejamkan mata untuk terlelap memimpikan kehidupan nyata penuh bunga kebahagiaan.
***
            “Bunda nanti berangkat jam berapa?.” Tanya Desti pada bunda sambil menyuapkan sesendok nasi kemulut. Entah apa yang bunda dan Desti rencanakan, tiap jum’at mereka bepergian.
            “Siang saja, sekalian bunda beli sepatu.”
            “Oke.” Kemudian Desti menyuapkan satu sendok nasi terakhirnya dan berpamitan. “Bunda Desti berangkat sekolah, dah telat nich!.”
            “Hati-hati dijalan, sayang.” Nasehat bunda.
            “Sudah tentu bunda. Berangkat dulu Ta’.” Pamit Desti sambil menepuk bahu kiriku.
            Hari ini kami hanya makan pagi bertiga, ayah keluar kota urusan kerjaan. Sudah dua hari ayah pergi dan kemungkinan nanti malam beliau kembali. Terkadang aku merasa kehilangan ketika ayah pergi. Ayah sering menyemagati aku dan tidak memihak pada siapapu, terlihat cuwek tapi perhatian pada keluarga.
            “Sayang, nanti mau ikut bunda?. Kalau iya bunda jemput.”
            “Enggak bunda, lagian Desta ada les fisika dan kimia.”
            “Ya sudah kalau gitu bunda berangkat, hati-hati dirumah jangan bikin susah mbak Nurul.” Pamit bunda sambil mencium keningku.
            Akhirnya pergi semua, tinggal aku dan mbak Nurul. Merasa damai dengan kesendirianku. Hari ini aku tidak ada kegiatan. Hanya untuk menghindari ajakan bunda bohong ada les fisika dan kimia. Aku tidak pernah mau tahu kemana mereka pergi tiap hari jum’at. Dalam kesepian seperti ini, seharian aku habiskan untuk belajar dan membaca buku pemberian ayah. Beliau selalu memberikan beberapa buku tiap kali datang dari bepergian.
            “Ting tong, tin tong, ting tong.” Bel rumah berbunyi.
“Mbaaak, Tamu tuch…!, mbak, mbak Nuruulll. Kemana sich mbak Nurul.” Mbak Nurul nggak kujung datang. Terpaksa aku raih tongkat turun dari kursi roda membuka pintu.
            “Hai. Desti ada?.” Tanya Irra ketika aku buka pintu.
            “Nggak ada, pergi sama bunda.”
            “Boleh aku nunggu di dalam.”
            “Silahkan.”
            Aku memandang Irra sekilas kemudian mendesah dan meninggalkan Irra.
            “Desta, mau kemana?!.”
            Aku hentikan langkah memutar badan memandang Irra.
            “Kemarilah, temani aku disini.” Pinta Irra.
            Langkah kakiku berbalik arah menuju kursi duduk tepat di depan Irra. “Apa yang harus aku lakukan untuk kamu.”
            “Kamu dirumah sediri?.”
            “Beginilah tiap hariku. Aku home schooling.”
            “Kapan Desti datang?.”
            “Mungkin tiga jam lagi dan bisa lebih.”
            “temani aku cari buku yuck!.”
            “Tapi….”
            Belum selesai aku bicara Irra menarik tanganku. “Ayoo, sebentaaaaar saja.”
            Aku raih sepasang tongkatku dan beranjak dari tempat duduk. “Naik apa?.” Tanyaku.
            Dia berfikir sejenak kemudian melirikku sambil tersenyum. “Taxi.”
            Aku dan Irra berjalan beriringan menelusuri koridor Mall. Entah sihir apa yang digunakan Irra untuk meluluhkan hatiku. Sebelumnya aku paling anti keluar rumah apalagi ke Mall. Dada terasa aneh, ketika mata Irra melirikku ada desiran lembut mengalir dalam hati. Detak jantung terpicu membuatku sedikit bergetar namun menyenangkan. Apa mungkin ini yang dinamakan cinta. Irra kekasih saudara kembarku dan sudah jelas Irra tidak akan mungkin menyukai diriku. Cacat pada kaki membuat nilai minus pada fisikku.
Ternyata keliling Mall menyenangkan sekali. Senda gurau mengiringi sepanjang window shopping bersama Irra. Tanpa sungkan terkadang Irra mengandeng tanganku. Dia juga tidak merasa malu dengan kekuranganku. Baru kali ini aku merasa sebahagia ini. Senyum dan tawaku saat ini adalah yang paling tulus. Thank Irra, kau sudah membuatku bahagia dan menghapus luka hati. Kau hapus kebencian yang tumbuh dihati untuk keluargaku dengan kebahagiaan ini.
            “Desta beli minum di café itu yuck?, aku haus.” Irra menunjuk sebuah café.
            Aku senyum sambil menganggukkan kepala. Kami berdua serempak berjalan menuju café mencari tempat duduk kosong dan memesan dua gelas minuman. Sayup-sayup suara music melengkapi nikmatnya berada dalam café. Aku seruput Es cappocino pesananku, dua tegukan membuat tengorokan dingin dan lega. Sungguh mengejutkan, dibelakang Irra Desti menyapa kami dengan wajah pucat memaksakan diri tersennyum.
            “Kalian cari apa disini.”
            Irra menoleh kebelakang. “Aku mengajak Desta cari buku. Tadinya mau ajak kamu tapi belum datang.”
            “Hallo sayang.” Sapa bunda padaku. Sepertinya bunda sangat heran melihatku ada disini. Tidak lama kemudian bunda tersenyum sambil melirik Irra.
            “Kalian tidak pulang?.” Tanya bunda.
            “Iya tante, ini juga mau Pulang ko’ tante.” Irra mengiyakan bunda.
            “Irra ikut tante saja, tante juga mau pulang.”
            “Tapi tante, rumah Irrakan…”
            “Nggak apa tante senang ko’.” Bunda motong bicara Irra.
            Kita pulang dengan mobil yang dikemudi bunda. Disamping bunda aku hanya diam membisu mendengar percakapan dan gurau bunda dengan Irra. Ada yang aneh dengan Desti. Dia tidak banyak bicara dan mukanya semakin pucat. Mama menghentikan mobil tepat didepan rumah Irra.
            “Terimakasih tante.” Ucap Irra.
            “Sama-sama sayang, salam buat mama dan papa yach!.”
            “Iya tante. Desta, Desti aku pulang yach.” Pamit Irra pada  kami bertiga sekaligus.
Aku dan Desti menganggukkan kepala bersama. Terlihat dari kaca mobil muka Desti lebih pucat dari sebelumnya. Mungkinkah gara-gara melihat aku bersama Irra. Kelihatanya bukan itu, pasti ada hal lain.
            “Desti kamu baik-baik saja!. Kerumah sakit ya?.” Tanya bunda, namun Desti tidak menjawab. Dia terlihat kelelahan, mata dipejamkan dan menyandarkan kepala disandaran kursi.
            “Desti ada apa dengan kamu?.” Tanyaku kawatir.
            “Mungkin Desti kelelahan sayang.” Sepertinya bunda tahu kekawatiranku. Bunda mengemudi mobil kencang menuju rumah sakit. Aku hanya bingung dan bertanya dalam hati. Apa yang terjadi pada Desti, kenapa bunda terlihat panik dan seolah-olah sedang menutupi sesuatu tentang Desti dariku.
            Desti dibopong bunda ketempat pemeriksaan khusus. Dokter meminta kami menunggu diluar ruang pemeriksaan. Beberapa menit kemudian dokter memangil buda dan diajak keruang tertutup. Diam-diam  aku menguntit dibelakang mereka. Terdengar samar dari candela kaca suara dokter memberi penjelasan pada bunda. Aku tidak tahu apa yang dokter bicarakan tapi bunda terlihat sangat muram dan sedih. Bunda juga terlihat panik menghubungi seseorang lewat hand ponsel. Bunda yang selama ini aku benci mengira lebih saying Desti dari pada aku. Melihat beliau dirudung sedih kebencian itu hilang berubah sayang dan kasihan.
”Desti saudara kembarku, apa yang terjadi padamu?. Kenapa bunda sampai sepanik dan sesedih itu.” Mataku tidak berkedip mengamati gerak-gerik bunda. Air matanya mulai mengalir dipipi sambil menganggukkan kepala mejawab seseorang yang beliau telepon. Bunda menutup telepon, mengapus air mata dan pamit pada dokter. Aku sambut bunda di depan pintu. Sedikit kaget belihat melihat aku ada disitu. Senyum sekilas padaku dan menuntunku pergi menuju yang aku pikir tempat semula, dan ternyata ketempat lain. Desti sundah dipindahkan keruangan lain rupanya. Desti terkulai lemah ditempat tidur serba putih. Perawat baru saja usai memasang infuse dan alat-alat lain yang ditempelkan pada badan Desti.
            “Bunda, Desti sakit apa?. Kenapa harus ada alat-alat ini ditubuh Desti.” Tanyaku ingin tahu.
            Bunda menitihkan air mata untuk kedua kalinya mendengar tanyaku. Sakit apa yang diderita Desti sebenarnya hingga membuat bunda meneteskan air mata mendengar tanyaku. “Bunda, bunda kenapa?.” Beliau tidak menjawab pertanyaanku tapi malah memutar badan duduk disofa yang disediankan rumah sakit dalam ruangan.
            “Sayang.” Panggil bunda padaku.
            Aku dekati bunda berdiri tepat didepanya, beliau memeluk pinggangku sambil menangis tersedu-sedu. Ingin aku tanya dan tuhu lebih banyak tentang Desti namun  aku urungkang niat. Aku dekap kepala bunda diperutku dan aku elus-elus punggung bunda untuk menenangkan beliau. Sebenarnya aku pun tidak jauh beda dengan bunda, aku sock melihat kondisi Desti secara tiba-tiba ngedrop.
            “Desta!, bunda!.” Ayah memangil dan menghapiri kami. Duduk disebelah bunda berharap dapat penjelasan tentang kondisi Desti.
            Syukurlah ayah datang, aku tidak tahan melihat kesedihan bunda. “Ayah.” Tegur bunda melepas pelukan dan berganti memeluk ayah seakan mengadukan masalah yang sedang dihadapi.
            Sesaat kemudian bunda melepas pelukannya dari ayah dan meraih kedua tanganku. “Desta sayang, kamu tahukan kalau dulu kalian lahir kembar siam.” Bunda memastikan.
Aku cuma menganggukkan kepala. Bunda diam sesaat dan menghapus air matanya. “Kalian hanya memiliki tiga betis, dengan banyak pertimbangan bunda dan ayah memilih memberikan kaki sempurna pada Desti. Dari hasil pemeriksaan sebelum operasi dokter menemukan ada kelainan ginjal pada Desti.” Jelas Bunda.
“Saat itu ayah dan bunda berfikir keputusan yang kita ambil merupakan yang terbaik dan paling adil bagi kalian.” Tambah ayah.
Kakiku gemetaran lemas mendengar penjelasan ayah dan bunda. Tongkat penompang badanku jatuhkan. Aku jatuh terkulai dilantai tidak berdaya. Selama ini aku memusuhi Desti, membenci bunda dan terkadang bersikap tidak perduli pada ayah. Beranggapan mereka tidak adil dan lebih sayang pada Desti. Aku merasa benar-benar jahat pada mereka. “Kenapa Desta baru dikasih tahu sekarang.”
Ayah mengangkatku duduk dikursi dan memelukku. “Ayah dan bunda tidak ingin kamu ikut sedih, cukup kami saja. Ayah nyakin dengan keadaan kamu sekarang, kamu sudah sangat menderita.”
Air mataku semakin deras mengalir menyesali sikapku selama ini. Aku telah menciptakan rasa kebencian pada diriku sendiri. Seharusnya hatiku peka terhadap keluargaku. Seharusnya aku tahu orang tuaku tidak mungkin membeda-bedakan kami. Seharusnya aku juga peka kalau selama ini bunda selalu bersikap sayang padaku. Ayah sangat perhatian dengan membelikan buku-buku kesukaanku tiap kali bepergian. Aku menyesali diriku yang rela dibodohi oleh kebencian hati sekeras batu.
***
            Baru aku ketahui beberapa hari lalu, tiap hari jum’at bunda mengantar Desti untuk cuci darah. Selama ini aku mengira mereka bersenang-senang diatas penderitaanku. Orang tuaku berusaha keras melakukan apa saja untuk memperpanjang hidup Desti. Empat hari lalu dokter memvonis penyakit Desti ditahap stadium akhir. Hari ini Desti di isolasi diruangan khusus dan kami berkumpul didepan ruangan tersebut.
            Pintu ruang terbuka, seorang dokter keluar dan ayah segera menghampiri. “Bagaimana dokter?.”
            “Maaf, kami sudah berusaha keras sebisa kami. Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk anak anda. Desti lebih membutuhkan kalian, berikanlah semangat hidup padanya.” Dokter memberi penjelasan dengan bijak.
            Aku masuk ruangan disusul bunda dan ayah. Ooh, adik kembarku Desti terbujur lemas dengan badan pucat seperti mayat. Aku dekati dan aku ngenggam tangannya. Dingin sekali tangan ini, dia pasti amat kesakitan. Air mataku mengalir tanpa bisa aku tahan. Desti membuka mata dan tersenyum padaku.
“Desta kenapa nangis?.”
Aku mengelengkan kepala, bibirku tidak mampu bicara. Terlalu sulit untuk digerakkan. Aku mendengar Desti berucap lagi. “Desta tolong jaga Irra untukku ya?. Sekarang dia menjadi milik dan tanggungan jawabmu. Tolong gantikan aku melanjutkan hidup untuk meneruskan cita-cita mengapai matahari. Aku sangat menyukai sinar terangnya.”
“Sudah cukup Desti, jangan bicara lagi. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Kau akan hidup seratus tahun lagi.” Hiburku pada diriku sendiri dan Desti.
“Ayah, bunda. Berjanjilah untuk memberikan semua identitasku pada Desta.”
“Iya sayang.” Jawab bunda tersedu-sedu.
“Desta, berjanjilah padaku kau akan memiliki kaki dan berjalan normal. Pergi sekolah dan mengantikan aku bermain bersama teman-teman.” Suara Desti semakin melemah membuatku ketakutan, takut ditinggal oleh Desti.
“Bunda. Desti capek, Desti mau istirahat.”
“Iya sayang, tidurlah dengan nyenyak.”
Desti memejamkan mata dan menghembuskan nafas terakhirnya. Bunda menangis menderu memeluk Desti. Aku hapus air mataku dan aku ucap “selamat jalan adiku. Bahagialah disana dengan jiwa tenang. Aku akan melanjutkan kehidupanmu.” Aku tutupi kepala Desti dengan selimut setelah ayah meraih bunda mengajak keluar ruangan. Aku tinggalkan mayat Desti untuk diurus perawat. “Desti, kenangan dan semangatmu akan selalu ada dan tumbuh dalam diriku.”
***
            Danau buatan yang diciptakan oleh pemilik wisata sangat indah dan sejuk. Membuat sepasang kekasih merasa damai berada disitu. Wisata danau juga menyimpan mitos. Bila sepasang kekasih naik perahu mengelilingi danau maka hubungannya akan langgeng tidak terpisahkan. Aku dan Irra duduk di tepi danau berselonjor kaki bersandar pohon. Pohon penuh bekas tulisan-tulisan tentang cinta sepasang kekasih. Hatiku ragu-ragu ingin mengatakan kebenaran indentitasku sebenarnya. Dengan mengajak Irra kedanau ini aku berharap tidak ada perpisahan bila aku mengatakan kebenaran.
            “Irra  aku mau bicara sesuatu.”
            “Bicaralah sepertinya penting sekali.”
            “Kau lihat matahari itu, aku menyukai sinar terangnya.” Tunjukku mengarah pada matahari. “Dia mampu memberi kehidupan pada setiap mahluk hidup dimuka bumi.”
            “Terus.”
            “Aku inggin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu.”
            “Aku juga mencintaimu.”
            “Tapi yang kamu cintai Desti, bukan aku.”
            “Maksud kamu?.”
            Aku menarik nafas dan menghembuskannya. Aku takut kehilangan Irra kalau aku membeberkan semuanya. Aku sudah banyak berbohong dari awal. “aku takut kehilangan kamu Irr.”
            “Desti ada apa denganmu, bicaramu aneh!. Kamu bicara cinta melulu, padahal dulu aku yang selalu mengatakan cinta dan aku curiga kamu tidak mencintai aku, tapi sekarang…”
            “Maaf Irra, aku bukan Desti tapi Desta.” Jelasku.
            Dahi Irra berkerut. “Lalu Desti.”
            “Desti menitipkan kamu padaku dan aku melanjutkan seluruh kehidupan yang pernah Desti jalani. Dia juga menyemagatiku untuk pasang kaku palsu dan terapi jalan. enam bulan ini aku menjalani terapi di Singapur.”
            “Sekarang Desti dimana?.”
            “Dia sudah tidak ada dimuka bumi ini lagi. Keluargaku merahasiakan ini, ayah dan ibu ingin aku hidup normal seperti anak-anak lain.”
            “Kenapa kamu bohong padaku.” Diam-diam Irra menitihkan air mata mendengar penjelasanku.
            “Maaf Irra. Aku takut kehilangan kamu, Aku sangat mencintaimu.”
            Irra menghapus air mata. “Aku mengerti, penyakit ginjal Desti sudah pada tahap serius. Kasihan Desti, dia masih sangat muda dan harapannya belum tercapai. Aku ikhlas melepas Desti pergi.”
            “Desti pasti bahagia disana. Karena aku yang akan mewujudkan harapanya.”
            “Benarkah, aku senang mendengarnya.”
            Aku diam sejenak. Ternyata Irra tidak marah dengan kebohonganku selama ini, dia memahai kondisi kami. Aku tidak tahu apa harapan Desti sebenarnya. Apapun itu pasti aku wujudkan. “Irra, maukah kamu menjadi pacarku?. Aku akan menunggu sampai kamu dapat mencintaiku.”
            Irra memandangku dengan wajah sedih. “Aku baru saja tahu Desti meninggalkan aku. Aku bisa menerima cintamu dengan satu syarat.”
            “Aku terima apa pun syaratnya asal kamu mau menjadi pacarku. Katakan apa yang kamu ingin dariku.”
            “Berjanjilah kau akan mewujudkan harapan Desti. Jika jawabannya iya, aku bersedia menjadi pacarmu.”
            Tanpa banyak kata aku peluk tubuh mungil disampingku dengan penuh kasih. “Itu sudah menjadi kewajibanku mewujudkan impian Desti.” Aku biarkan kepala Irra bersandar dibahuku. Aku mulai sadar cahaya matahari telah menerobos masuk kedalam hatiku.
            “Irra, apa harapan Desti sebenarnya.”
            “Menjadikan aku pengantinya.”
            “Benarkah.”
            Semakin erat aku memeluk Irra. Seolah kami mahkluk paling bahagia dan danau menjadi saksi cinta kita. “Saudaraku, aku telah mewujutkan cita-citamu. Kau pasti tersenyum bahagia disana. Kau benar, ternyata mengapai matahari tidak sesulit yang aku bayangkan. Terimakasi Desti, kami akan selalu merindukanmu.” @@@
         
 By: Lphie Khasanah
List Koleksi Cerpen Lihat disini

Sabtu, 02 Februari 2013

Contoh RPP Berkarakter_"Membuat Busana Anak" Pertemuan 17-18



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pembelajaran         :    Kompetensi Kejuruan Tata Busana
Kelas / Semester             :    XI  / 4
Alokasi Waktu                  :    10 X 45 menit
       Standar Kompetensi        :    Membuat Busana Anak                                    
Kompetensi Dasar           :    Melakukan pengepresan. 
                                                         
Indikator :
-  Tempat kerja disiapkan sesuai dengan standar ergonomic.
-  Pekerjaan ditempatkan pada mesin sesuai persyaratan produk dan prosedur kerja.
-     Pengaturan suhu alat pengepresan pada waktu pelaksanaan disesuaikan dengan persyaratan produk, spesifikasi kain dan prosedur kerja.

I.    Tujuan Pembelajaran :
Pertemuan  17 dan 18
1.    Siswa dapat menjelaskan dan menunjukkan ketelitian dalam mempersiapkan tempat dan alat pres.
2.    Siswa dapat menjelaskan cara mengerjakan pengepresan.
3.    Siswa dapat menjelaskan dan melakukan pekerjaan pengepresan pada busana jump sweet

II.    Materi Ajar :
1.    Mempersiapkan tempat dan alat pres.
2.    Teknik pengepresan pada busana jump sweet.

III.   Metode Pembelajaran :
1.    Latihan
2.    Demonstrasi
3.    Pemberian tugas/tugas mandiri

IV.   Langkah Pengajaran :
Nilai Budaya karakter Bangsa (Disiplin, Kerja Keras, Mandiri, Rasa Ingin Tahu)
Pertemuan ke-17
A.   Kegietan Awal : (Tahap Situasional = 30 menit)
1.    Mengabsen peserta didik
2.    Mengkondisikan peserta didik
3.    Memeriksa satu persatu tugas sebelum tatap muka/tugas terstruktur peserta didik
4.    Membahas tugas peserta didik
5.    Membimbing peserta didik yang belum memahami tugas, perindividu
6.    Menginformasikan :
7.    Topik/KD pembelajaran.
8.    Tujuan pembelajaran.

B.   Kegiatan Inti : (Tahap Explorasi = 60 menit, Tahap Elaborasi dan Tahap Konfirmasi = 45 menit)
1.    Memberikan informasi awal dan menggali pengetahuan peserta didik tentang ;
2.    Menjelaskan dan menunjukkan ketelitian dalam mempersiapkan tempat dan alat pres.
3.    Menjelaskan cara mengerjakan pengepresan.
4.    Menjelaskan dan melakukan  pekerjaan pengepresan pada busana jump sweet     
5.    Mendemonstrasikan tentang ;
6.    Teknik menyeterika yang tepat.
7.    Teknik melipat yang tepat.
8.    Teknik mengemas dan menyimpan jump sweet.
9.    Membimbing dan mengarahkan peserta didik melakukan pengepresan jump sweet
10.  Mengarahkan peserta didik untuk mengepres setiap langkah menjahit jump sweet.
11.  Mengarahkan peserta didik memperbaiki mutu jahit dan mutu pressing.
12.  Memberikan penguatan/masukan dari kerja siswa.
13.  Membimbing peserta didik merumuskan kesimpulan

C.   Kegietan Akhir : (Evaluasi = 20 menit, Tugas = 5 menit)
1.    Melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa.
2.    Melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa.

Pertemuan ke-18
A.   Kegietan Awal : (Tahap Situasional = 30 menit)
1.    Mengabsen peserta didik
2.    Mengkondisikan peserta didik
3.    Memeriksa satu persatu tugas sebelum tatap muka/tugas terstruktur peserta didik
4.    Membahas tugas peserta didik
5.    Membimbing peserta didik yang belum memahami tugas, perindividu
6.    Menginformasikan :
7.    Topik/KD pembelajaran.
8.    Tujuan pembelajaran.

B.   Kegiatan Inti : (Tahap Explorasi = 60 menit, Tahap Elaborasi dan Tahap Konfirmasi = 45 menit)
1.    Memberikan informasi awal dan menggali pengetahuan peserta didik tentang ;
2.    Menjelaskan dan menunjukkan ketelitian dalam mempersiapkan tempat dan alat pres.
3.    Menjelaskan cara mengerjakan pengepresan.
4.    Menjelaskan dan melakukan  pekerjaan pengepresan pada busana jump sweet      
5.    Mendemonstrasikan tentang ;
6.    Teknik menyeterika yang tepat.
7.    Teknik melipat yang tepat.
8.    Teknik mengemas dan menyimpan jump sweet.
9.    Membimbing dan mengarahkan peserta didik melakukan pengepresan jump sweet
10.  Mengarahkan peserta didik untuk mengepres setiap langkah menjahit jump sweet.
11.  Mengarahkan peserta didik memperbaiki mutu jahit dan mutu pressing.
12.  Memberikan penguatan/masukan dari kerja siswa.
13.  Membimbing peserta didik merumuskan kesimpulan

C.   Kegietan Akhir : (Evaluasi = 20 menit, Tugas = 5 menit)
1.    Melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa.
2.    Melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa

V. Alat dan Sumber Belajar :
1. Media papan tulis, contoh-contoh pakaian anak.
2. Buku Penuntun Membuat Pola Busana Anak oleh Soekarno
3. Bina Busana Pelajaran Menjahit Busana Wanita oleh M.H. Wancik
4. Pelajaran Menjahit Busana Pria Oleh Soekarno

VI. Penilaian   :
a.    Teknik Penilaian   : Tes Tertulis & Tes Kinerja
b.    Bentuk Instrumen : Uraian/Pilihan ganda/Lembar Observasi

No
Aspek Kemampuan
Kurang
Cukup
Baik
1
Mampu mengkalsifikasikan macam-macam busana anak



2
Mampu memotong bahan



3
Mampu menjahit busana anak



4
Mampu menyelesaikan busana anak dengan jahit tangan.



5
Mampu menghitung harga jual



6
Mampu melakukan pengepresan




Format Penilaian Afektif         :
No
Nama Siswa
Aspek Yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai


Partisipasi Dalam Kelompok
Kerjasama
Kelengkapan Tugas Individu/Kelompok
Kerapihan Hasil Kerja
Mengemukakan Gagasan Saat Diskusi


1








2








3








4








5








6









Afektif: Skor máximum 3 dan skor mínimum 1 dengan kriteria sbb:
3 = Kegiatan banyak sekali atau intensitas tinggi
2 = Kegiatan cukup atau intensitas sedang
1 = Kegiatan kurang atau intensitas rendah

Format Penilaian Psikomotorik
No
Nama Siswa
Aspek Yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai


Menyiapkan bahan-bahan percobaan
Menggunting/
mengukur kain
Memegang Penjepit Dengan Benar
Menjepit Kain Ketika Pembakaran
Membuang Hasil Pembakaran


1








2








3








4








5








6









Pedoman Penskoran
Psikomotorik: Skor máximum 3 dan skor mínimum 1 dengan kriteria sbb:
3 = Tindakan benar, logis, etis
2 = Tindakan benar, tidak logis, tidak etis
1 = Tindakan salah

Format Penilaian Kognitif
No
Nama Siswa
Aspek Yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai


Mengikuti Prosedur dengan Benar
Menganalisis data
Menginterpretasikan data
Menarik Kesimpulan
Merancang hipótesis baru berdasarkan kesimpulan


1








2








3








4








5








6









Kognitif            : Skor máximum 3 dan skor mínimum 1 dengan kriteria sbb:
3 = Sesuai prosedur, Analisis tepat, Interpretasi data benar, Menarik Kesimpulan dengan benar, Hipotesis sesuai
2 = Kurang sesuai denganprosedur, Analisis kurang tepat, Interpretasi data kurang benar, Hipotesis kurang sTindakan benar, tidsuai
1 = Tidak sesuai dengan prosedur, Analisis tidak tepat, Interpretasi data tidak benar, Menarik kesimpulan tidak benar, Hipotesis tidak sesuai
   
Format Penilaian Kognitif Ketika Melakukan Diskusi
No
Nama Siswa
Aspek Yang Dinilai
Jumlah Skor
Nilai


Mengajukan Pertanyaan
Menjawab Pertanyaan
Menyampaikan Argumen
Menyampaikan Sanggahan
Akurasi Informasi


1








2








3








4








5








6









Kognitif            : Skor máximum 3 dan skor mínimum 1 dengan kriteria sbb:
3 = Pertanyaan logis/jawaban tepat/argumen- sanggahan mempunyai dasar yang kuat
2 = Pertanyaan mendekati logis/jawaban tepat/argumen-sanggahan mempunyai dasar yang kuat
1 = Pertanyaan tidak logis/jawaban tepat/argumeb-sanggahan mempunyai dasar yang kuat


Tuban,  Januari 2013
Guru Mata Pelajaran,



                                                                                                             LPHIE KHASANAH