Minggu, 17 Maret 2013

Cerpan WeepHolic _"Setetes Mutiara Kepedihan"

list Koleksi cerpen lihat disini

Setetes Mutiara Kepedihan

“Kapan kembali keIndonesia mas.”
            “Entahlah, ini masih mengurus administrasi wisuda.”
“Cepatlah kembali mas. Aku rindu mas Ampri.” Percakapan kami lewat ponsel.
Empat tahun lalu mas Ampri melanjutkan study keJepang. Dia mendapat beasiswa dari lembaga pendidikan yang mengadakan mekanik kontes. Saat itu dia menjadi the best dalam perlombaan. Karya ciptaannya memikat semua juri dari berbagai manca Negara. Teriakan bahagia mas Ampri menjadi bunga bahagia di hatiku. Kontes berhadiah beasiswa kuliah keluar negeri sesuai Negara yang dipilih membuat aku rela ditinggal mas Ampri.
            Air mata mengalir lembut di pipi melepas kepergian mas Ampri di bandara juanda Surabaya. Tangan kekar mas Ampri penuh kasih menyentuh pipi menghapus air mata. Tatapan mesra mas Ampri membuatku semakin tidak berdaya. Hati bergejolak berharap mas Ampri mengabaikan keinginan dan cukup meraih cita – cita disini saja. Semakin deras air mata mengalir ketika mas Ampri memeluk erat tubuhku bersama bisikan lembut di telinga. “Aku mohon jadikan aku tawanan cintamu dan telah aku ikat hatimu hanya untukku seorang.”
            Bibirku tertutup rapat hanya anggukan kepala mewakili persetujuan atas ucapannya. Kala itu dekapan mas Ampri membuatku merasakan detak jantungnya terpacu bagai bunyi gendang perang. “Berjajilah padaku, kau tidak akan mempermain perasaanku. Hanya ada aku disetiap jengkal langkahmu. Karena cintaku tertanam dalam untukmu melebihi apa pun di dunia ini. Berjanjilah padaku mas Ampri.” Mohonku pada mas Ampri dan saat itu pula pertama kali aku menyebut mas Ampri dengan embel – embel mas.
            “Tentu saja Mel. Nyakinlah mulai detik ini hatiku sudah menjadi tawananmu. Tidak akan pernah ada cinta selain dirimu di hatiku.” Mas Ampri menyakikan kegundahan hatiku.
            “Terima kasih Mas. Setiap detik akan aku tunggu kabar tentang keberadaan mas Ampri.” Kataku sambil melepaskan diri dari pelukan mas Ampri.
            “Selamat tinggal Mel. Aku segera kembali.”
            “Selamat jalan mas Ampri.” Lambaian tangganku mengiringi langkah mas Ampri. Hatiku masih terpatri di tempat aku berpijak mengantar kepergian mas Ampri. Sulit rasanya berlalu meninggalkan bandara tanpa ada mas Ampri disampingku lagi.
            Getaran lembut di saku celana membuatku tersadar dari resah dan galau. Aku angkat ponsel dan kudengar suara cempreng dari dalam ponsel. “Mel ngikut keroyal nggak?. buruan donk!, ko’ lama baget sich. Sudah berapa jam nich!. Pesawat juga sudah berlalu, nunggu apa’an lagi.”
            Aku tari nafas panjang. “Iya, iya. Tunggu bentar.” Sedikit berlari aku menuju parkiran menemui teman-teman yang sebelumya memberi kesempatan padaku dan mas Ampri untuk bicara tentang hati.
***
            Awal kepergian mas Ampri, aku ingin Obsesi dan ambisi segera diakhiri saja. Bahkan merasa nunggu akan sangat menyebalkan dan sulit dijalani. Namun mas Ampri selalu menghubungiku, berbagi cerita tentang banyak hal yang dia lakukan disana. Seolah aku menjadi buku diare hidup baginya. Apapun aktifitas yang mas Ampri jalani dia ceritakan padaku. Dari situ aku tidak merasa sendiri, sabar menati kehadiran mas Ampri tanpa gelisah. Walau raga terpisah jauh namun hati selalu dekat.
            Hubungan Long distand sulit berhasil kata kebanyakan teman. Tapi bagiku itu suatu keunikan dalam cinta. Hubungan kami tetap sama seperti saat kita bisa jalan berdampingan. Banyak cinta datang menghapiri kutolak semua berkat kepandaian mas Ampri menjaga hubungan. Tidak pernah terpikir olehku mencari penganti mas Ampri walau hanya sekedar singgah. Cintaku begitu dalam pada mas Ampri dan aku nyakin penantianku tidak akan sia – sia.
Setahun terakhir mas Ampri mulai berubah. Mulai jarang catting, jarang SMS dan juga jarang telepon. Kalau aku hunbungi banyak alasan dia lontarkan. Katanya sibuk dengan skripsi, biaya komunikasi elektronik semakin mahal. Di hatiku mulai tumbuh rasa curiga tidak nyaman dengan penantian. Namun aku berusaha menepis jauh rasa curiga dan tetap percaya cinta mas Ampri. Bagimana mungkin aku tidak percaya, cintaku semakin besar dan rindu semakin melanda. Rasanya tidak mungkin aku bisa melupakan mas Ampri dari benakku.
Skripsi mas Ampri sudah kelar tinggal menunggu wisuda. Banyak rencana aku susun untuk menyambut kedatangan mas Ampri. Minggu depan mas Ampri akan diwisuda dan langsung terbang ke Indonesia. Hari kedatangan mas Ampri bertepatan dengan ulang tahunku yang ke dua puluh dua tahun. Bayangan indah tentang kebersamaan dengan mas Ampri membuatku senyum – senyum sendiri layaknya orang dilanda kasmaran.
Bersama Hendra cowok yang sudah berkali – kali aku tolok perasaannya karena keberadaan mas Ampri. Kami menyusun project pelaksaan ultah di Kavetaria yang berada di Bandara Juanda. Hendra milih menjadi sahabatku berusaha memahi pribadiku yang begitu besar mencintai mas Ampri. Dia melupakan cinta yang bersemi di hatinya dan merubah cinta tersebut menjadi persahabatan begitu kukuh. Dia tidak pernah menawarkan sesuatu kepadaku, tapi setiap aku butuh sesuatu dia membantu dengan tulus ikhlas tanpa pamprih. Selama bersamaku dia selalu mendukung apa yang menjadi keinginanku. Setiap aku suntuk lama tidak komunikasi dengan mas Ampri dia selalu ada memberi semangat. Mendorongku untuk terus bersabar dalam penantian, dia selalu berkata “semau akan indah pada waktunya”. Meski kata – kata itu sering aku dengar dari kebanyakan orang tapi cukup membuat hati menjadi damai.
Sesuai saran pengelola kavetaria sudah empat orang aku temui untuk meminta izin tempat. Omelan dan bentakan aku terima dari setiap orang yang aku temui. Susahnya minta izin merayakan ultah di bandara juanda membuatku putus asa dan meneteskan air mata. Melihat diriku menangis Hendra semakin gencar memburu orang – orang yang disarankan untuk dimintai izin. Besarnya perjuangan Hendara membuat kami diberi izin merayakan ultah di bandara juanda. Aku bersorak gembira mendengar kabar diberi izin merayakan ultah di bandara. Sangking semangat dan gembira tanpa sadar aku peluk Hendara meluapkan bahagia.
***
            Tidak sabar rasanya menunggu hari kedatangan mas Ampri. Hati gundah selalu ingin terhubung dengan mas Ampri. Ponsel aku otak – atik mencari nomor dalam list nomor pangilan, lalu jari jempolku tidak jadi memencet tombol call. Aku lempar ponsel ketempat tidur menepis jauh rasa resah. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Pastinya saat ini mas Ampri lagi sibuk aktifitas harian. Jika aku hubungi sekarang takut aktifitasnya terganggu. Aku tahan keinginanku untuk beberapa jam kedepan dengan rebahan di atas tempat tidur sambil mendengarkan MP3.
            Suara alarm membuatku terbagun dari tempat tidur. Kuraih ponsel mencari nomor telepon mas Ampri. Aku tulis pesan di layar ponsel. “Sudah di rumahkah mas Ampri?.”
            “Ya, sudah.” Balasan pesanku.
            Lalu tombol call aku pencet terdengar suara. “Tuuut. Tuuut. Tuuut.”
            “Hallo selamat sore.” Suara merdur di sebrang.
            Sejenak aku terdiam berfikir kenapa yang mengakat telepon seorang cewek. Bibirku menyunging senyum menemukan jawaban lalu aku matikan ponsel. Sepertinya mas Ampri mulai mengerjai aku seperti tahun – tahun sebelumnya. Menjelang ultaku mas Ampri selalu membuatku bĂȘte dan sebel tekadang aku sampai menagis. Bila dia sudah puas dan aku mencapai puncak sebel permainan baru dihentikan lalu menertaiku. Setelah itu aku akan tambah bĂȘte dan mencubiti lengan serta megelitik manja pinggang mas Ampri membuatnya semakin tertawa terbahak – bahak. Permainan kali ini terhitung keenam semenjak mas Ampri menjadi kekasihku.
            Dua jam kemudia aku telepon lagi mas Ampri.
“Hallo.”
            “Malam mas.” Jawabku.
            “Heem.” Balas mas Ampri.
            “Cewek yang megangkat teleponku tadi siapa mas?.”
            “Rupanya kamu sudah tahu.”
            “Maksud mas Ampri aku tahu apa?.” Aku pura – pura blo’on.
            “Maafkan aku Mel. Dia gadis yang mengisi kehidupanku hampir setahun ini di Jepang .” Jelas mas Ampri.
            Tawa lirihku menunjukan pada mas Ampri kalau aku tidak akan bisa lagi diusili seperti tahun lalu. “Terus dech!, mas Ampri mengusili Mellaty.”
            “Sekali lagi maafkan aku Mel. Sudah lama aku bermaksud memberi tahukan masalah ini padamu. Rasa berat di hati membuatku sulit mengutarakan perasaan. Cinta tidak….”
            Penjelasan mas Ampri tidak aku hiraukan malah aku potong secara tiba – tiba bicaranya. “Aku sudah sangat merindukan mas Ampri. Kagenku menyiksa batin berharap mas Ampri hadir membawa sejuta keindahan. Resah hati lalui waktu tanpa mas Ampri. Jadi jangan sampai mas Ampri bertingkah nakal yang bisa lukai aku.”
            Desahan nafas mas Ampri terdengar lembut, namun aku terus saja nyerocos menyampaikan semua isi hati yang ingin aku sampaikan padanya. “Aku sudah menyiapkan semua. Pokoknya nanti mas Ampri turun dari pesawat langsung menuju pesta ulang tahunku ya?. Ok! Mas, siapkan kado paling sepesial buat Mellaty.” Tanpa menunggu jawaban dari mas Ampri aku tutup ponsel.
***
            Dari pagi bersama Hendra dan dibantu beberapa teman aku menyiapkan dekorasi dan layout tempat pesta peyambutan mas Ampri beserta ultahku. Sore pukul dua aku bisa bernafas lega semua persiapan sudah usai. Aku membuat diriku tampil secantik mungkin untuk mas Ampri. Baju baru, sepatu baru, dan make-Up salon kecantikan yang nempel di badan membuat teman – teman yang aku undang terpukau dengan penampilanku.
            Teman – teman yang aku undang sudah pada hadir. Acara belum mau aku mulai sebelum mas Ampri datang. Aku resah pesawat mas Ampri mengalami keterlambatan. Hendra yang bertugas menjemput mas Ampri belum juga memberi kabar kedatangan. Dalam keresahan ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk dari Hendra memberi kabar mas Ampri sudah bersamanya. Diiringi senyum bahagia aku mempersiapkan diri bersama teman – teman menyambut mas Ampri di area pesta.
            Mekarnya bunga cinta di hati membuat aku lari menghampiri mas Ampri dan memeluknya erat. Ach!, rupanya mas Ampri tidak membalas pelukanku seperti ketika setiap kali dia pulang dan baru menjumpaiku. Aku tarik tangannya menuntun dia keluar dari kerumunan teman – teman. Kubiarkan Hendra mengatur semua pestaku. Aku ingin melepas rindu berdua bersama mas Ampri. Belum sampai di tempat tujuan mas Ampri menari gandengan tanganku. Aku menoleh padanya dan melebas pengangan tanganku.
            “Ada apa mas?.” Tanyaku tidak mengerti.
            “Mel, tolong pahami aku. Saat ini aku benar – benar serius ingin membahas tentang masalah kemarin.”
            Aku mengeryitkan dahi tidak mengerti. “Apa yang mas Ampri bicarakan sebenarnya?.”
            “Mel, tolong mengertilah!. Aku tidak sedang mengerjai atau mencandai kamu. Lihatlah gadis bersama Hendra yang terus saja mengamati kita. dia datang bersamaku, dialah yang sekarang mengisi kehidupanku semenjak aku kenal dia.” Terang mas Ampri.
            Mendengar penjelasan mas Ampri air mataku mengalir membasahi pipi. Bahagia di hati sesaat membuatku tidak sadar bila mas Ampri datang dengan seorang gadis. “Lalu bagaimana denganku yang setia mencintai mas Ampri. Bagaimana dengan janji – janji yang mas Ampri ucap dulu?.”
            “Mel, cinta itu tidak harus memiliki.”
            Cinta tidak harus memiliki kata kamu mas?. Mana ada yang seperti itu!.” Protesku. “Bila ada yang mengatakan cinta tidak harus memiliki itu salah, maka aku membenarkannya mas. Apa mas Ampri tidak melihat luka dihatiku akibat terlalu mencintaimu.”
            “Cinta itu bahagia bila melihat orang yang dicintai bahagia Mel.” Bela mas Ampri.
             “Mas Ampriii…, Bila ada yang bilang aku bahagia melihat mas Ampri bahagia dengan orang lain itu tidak benar, maka aku pun setuju mas. Hatiku tidak rela terlepas darimu mas. Aku merasakan sakit hati dan kecemburuan merasuk dalam diriku.” Tangisku semakin menderu.
            “Aku tidak bisa Mel, rasa cinta untukmu dihatiku sudah musnah. Aku benar – benar mohon maaf padamu. Bahagialah bersama Hendra yang begitu lebih mencintaimu.” Mas Ampri mengandeng gadis itu yang baru saja datang bersama Hendara menghampiri kami.
            “Mas Ampri.” Sebelum mas Ampri beranjak dari tempat aku pangil dan dia menoleh padaku. “Inikah kado sepesial yang kau berikan padaku diulang tahun kali ini?. Setetes mutiara air mata kepedihan, ini akan terus membekas karena lukaku terlalu dalam.”
            “Sekali lagi maafkan aku Mel.” Ucap mas Ampri lalu beranjak meningalkan aku yang meratapi kepedihan hati.
            Aku berharap ini hanya gurauan mas Ampri, tapi kenapa mas Ampri tidak juga menghentikan langkan dan berbalik arah padaku. Och! Tuhan, rupanya ini sungguhan. Bagaimana mukin dia bisa menyarankan padaku hidup bahagia bersama orang yang tidak aku cintai. “Tuhan kuatkan hatiku, buatlah aku melupakan dia dan mengarungi hidup sesuai dengan saranya. Hapus selimut keegoisan hatiku tentang dia. Lepaskan jiwaku dari belenggu cintanya. Karena Aku layak hidup bahagia seperti dia.”
            Kuhapus air mata, kutegapkan langkah memberitahu dunia bahwa aku wanita tegar. Pasti Tuhan punya rencana indah dibalik kepedihan yang aku alami. Ketulusan cinta yang aku miliki akan diganti dengan cinta sejati terbawa sampai mati. Kenangan pahit yang aku alami tidak akan bisa terhapus atau terlupakan oleh waktu, tapi akan aku simpan dan kukenang sebagai pengalaman hidup menuju bahagia sejati.
AND

Tersakiti, maret 2013
By: Lphie Khasanah


Koleksi Cerpen Lain Lihat disini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar